Memory of love

Sahabat, ingin sekali rasanya kita bisa duduk bersampingan diatas tebing batu tinggi. lalu kita bicarakan tentang keegoan kita dimasa lalu dan kita ceritakan kembali kisah dan keinginan kita yang belum sempat terwujud. Hidup dari kebiasaan tak sepaham biasanya akan berakhir pahit.
awal dijalani dengan manis pasti akan berakhir dengan air mata.
semua waktu akan terus berjalan dengan mengikuti porosnya..
masalah kelabilan adalah hal biasa yang terkadang setiap orang tidak menyadari..
yang mereka anggap sudah biasa . .
tapi mereka gak sadar bahwa itu hanya kekonyolan yang lupa untuk di hilangkan..

terkadang aku jenuh dengan hal itu bahkan aku bosan..
setiap kali aku dan dia beradu argumen pasti ada saja yang membuat kita untuk saling terdiam..
karena apa??
karena diantara kita masih kenak kanakan dalam menyelesaikan suatu masalah.
dan terkadang kita pun saling membuka masa lalu entah aku entah dia yang memulai..
bahkan mereka yang terbiasa hidup dimasa lalu pun ikut terbawa kita perbincangkan..

kita saling membela diri sendiri..
kita saling merasa hebat sendiri..
kita memang satu hati dua kepala dalam keinginan berbeda tapi bukan berarti tidak bisa disatukan..
seharusnya kita berfikir bahwa diujung jalan sana kita saling bertemu dalam pemikiran yang sama..
kenapa tidak kita coba untuk berlari dalam dua jalan berbeda tapi tetap bertemu diujung persimpangan..
kita sempat berjanji untuk terus bersama, kita pernah berangan-angan untuk membuat keluarga kecil kita dan memiliki rumah sederhana tapi dengan halaman yang cukup luas. 

sahabat, kita pernah merasakan kejenuhan akan nasib kita dan mengeluh atas apa yang kita rasakan. kita saling bertukar pikiran walaupun terkadang kita juga sering bertengkar. kita memang aneh bahkan memang sangat aneh. ada hal sepele yang secara logika ku anggap sederhana tapi kita besar-besarkan. sampai pada waktu itu kita pun saling berjauhan tanpa kata tanpa sapa, bulan pun berlalu dan kita masih kuat untuk tidak berbicara. tapi aku kagum padamu sahabat, kamu datang padaku dengan suara lugumu dan memintaku untuk memaafkanmu..

aku ingat kamu waktu itu. Handphone ku bergetar tanda panggilan masuk, pas aku lihat ternyata itu panggilan telpon dari mu, sekali aku diamkan dan kedua kalinya baru aku angkat, waktu itu aku sedang marah besar, dengan nada yang sedikit kasar aku marah sekuat kuatnya aku marah. tapi sekali lagi kamu cukup diam dan sabar menghadapiku, nada awal yang kau keluarkan adalah, " halo ray, apa kabar?", Kemana aja gak ada kabar, dalam percakapan telpon pun kita tak banyak bicara, itu dikarenakan  aku yang masih kokoh pada pondasi ku dengan keegoan. Sebelum menutup telpon kamu ucap padaku dengan penuh cinta. walaupun aku tidak tau benar iya atau tidaknya perasaanmu pada waktu itu "aku cinta dan masih sayang sama kamu" . itu nada terakhir yang aku dengar dari mu.

Dalam telpon kita sempat berimajinasi dalam jarak jauh,
aku yang pada saat itu duduk di jembatan jalan sambil memandangi langit dengan sebungkus rokok dan segelas kopi hitam yang biasa aku lakukan disaat aku jenuh dengan keadaan. lalu aku meminta mu untuk keluar rumah sebentar untuk melakukan hal yang sama yaitu untuk melihat apa yang sedang aku lihat..
aku bilang padamu, sekarang aku duduk diatas kaki langit dengan keadaan kecewa..
sedari tadi aku menghabiskan waktu ku untuk merokok dan berkhayal, teman setia ku adalah kopi hitam ini, tapi kamu jangan salah paham karena kopi ini memang benar-benar kopi hitam buatan petani kopi bukan buatan dari orang-orang gila yang bisa membuat si penikmatnya menjadi tak sadarkan diri. ini memang benar kopi bukan sebutan untuk minuman ber alkohol.

coba kamu lihat bintang yang sedang bersinar itu?? ada berapa bintang dikanan dan dikiri, coba kamu lihat pasti kamu akan senang dengan sekali melihatnya, warna dan cahaya cukup indah bukan?? hay sahabat, kenapa kamu hanya terdiam saja. kenapa kamu hanya menjadi pendengar setia, harusnya kamu senang karena apa?? bukankah ini adalah hari kebahagianmu?? bukankah tadi sebelum matahari terbenam ayahmu menelpon dan menanyakan kabarmu?? bukankah pas kau terbangun kau bilang padaku bahwa ibumu memberikan kado pertama dari nya yang kau bilang itu kado special sejak kau tinggal bersamanya??kenapa masih diam?? aku rasa kau diam karena kau juga kagum sama seperti aku melihatnya, setidaknya  ikut tersenyum layaknya aku, coba kamu lihat bintang disebelah kiri kita disana ada dua bintang yang saling menyinari dan semakin terang bila kita lihat secara perlahan.

coba kamu perhatikan juga bintang yang disebelah kanan. bintangnya sendiri dan cahaya pun kadang terang kadang tidak. meredup tanpa kita tahu apa yang terjadi dengan bintang itu, seolah-olah ingin berkata pada kita bahwa dia ingin bercerita. sulit untuk menebaknya karena aku pun sama seperti bintang itu. sahabat dengarlah aku bicara karena dari kemarin saja kita cuma bisa terdiam tanpa sepatah kata manja pun yang kau keluarkan untukku hari ini. seminggu sebelumnya kita tertawa tapi kenapa untuk hari ini kamu diam saja, seolah ada kesalahan yang sudah aku perbuat sehingga cuma itu yang kamu  tunjukan padaku. 

sahabat ingatkah kau saat aku bercerita tentang dua anak domba dan satu induknya, sang gembala membiarkan domba domba itu liar bermain. saat sang gembala tertidur maka si domba pun dibiarkannya asik berladang di tengah padang savana nan luas. padahal sang gembala tau bahwa di arena savana tersebut banyak sekali binatang liar yang siap menerkam ternaknya itu. dimana gembala itu?? sedari tadi aku tidak lihat lagi. ucap sang induk domba berkata pada sang anak. sang anak pun melihat dengan seksama ke sang induk dengan wajah polosnya sambil memakan rerumputan hijau muda kesukaannya. lihat nak" panggilan sang ibu kepada anak munggilnya tersebut. gembala itu tenyata tertidur dibalik pohon besar itu. mungkin dia kelelahan akibat seharian penuh asik bermain seruling peninggalan sang kakek yang ternyata juga seorang pengembala. tak lama berselang angin berhembus sangat kencang kearah gembala yang sedang tertidur pulas, menegok lah si ibu ke arah gembala yang tidur nya lelap sekali, sang ibu pun sangat khawatir akan datangnya mangsa yang siap memakan anak-anak mereka dan khawatir karena tidak ada yang menjaga keselamatannya dan kedua anaknya. tak lama berselang raja langit pun datang dengan gagah perkasa terbang mengitari keluarga kecil domba gembala. Dia terus bersuara melengking dahsyat. dengan mata yang tajam dia terus memantau pergerakan dari kedua anak domba tersebut, sesekali bergerak tipuan untuk membuat lengah sang induk domba. namun kewaspadaan sang induk lah yang mebuat elang itu semakin marah. “Kli - kliuw kliiw" kliiw" kliiw" suara raja langit pun semakin kencang terdengar. 

tapi tak diduga ternyata pergerakan dan suara elang itulah yang membuat gerombolan rubah datang untuk ikut dalam perburuan tersebut. sambil mengawasi, rubah itu pun terus mendekat perlahan tanpa suara tanpa ingin raja langit itu pun tahu akan pergerakannya, dan rupanya dengan mata dia yang sangat jeli elang pun  tahu ternyata ada beberapa pesaing yang ingin merebut buruannya. tak ingin buruannya diambil dari si rubah elang pun mengambil ranting yang lumayan cukup besar, yang dia rasa cukup untuk mengusir segerombolan rubah. "hahaha" si rubah itu tertawa geli melihat tingkah yang dilakukan elang. "dia pikir kita takut dengan kayu yang dilemparkanya", ucap si rubah kepada teman mereka, elang pun semakin marah dengan sikap rubah yang terus menertawakannya. akhirnya mereka pun saling beradu akal untuk memperebutkan buruan mereka yaitu domba muda yang mereka anggap santapan lezat.

melihat tingkah dari kedua hewan itu sang induk domba pun tercengang, kenapa ini?? ada apa ini??  gelisah sang induk domba menjadi bercabang, diatara dia takut anaknya jadi mangsa buruan dan dia pun takut anaknya tumbuh besar kelak akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia liat hari ini. kedua anak domba itu pun datang mendekat dan bertanya kepada sang induk, ibu apakah yang kita lihat ini benar?? kenapa mereka berkelahi?? apa yang mereka lakukan dan untuk apa mereka lakukan itu dan ambisinya pun apa?? "anakku, ucap sang induk kepada anak kesayangan sang induk. kalian tidak usah melakukan apa yang kakak kalian lakukan, kalian jangan mencontohkan sikap mereka berdua. lihat kakak raja langit dan kakak rubah. mereka semua tak patut kalian contoh, mereka serakah dan mereka saling melukai. lalu dengan nada pelan sang induk berkata pada sang anak, kalian harus saling menjaga dan menyayangi dan hidup berdampingan tanpa harus saling melukai walau pun berbeda.

Untuk sahabat tersayang yang pernah kusayang, masih ingat kah dengan dogeng ku ini?? setiap kali kamu menelpon ku dan kita saling bercanda gurau lewat telpon terkadang setiap penutup obrolan kita, kau selalu memintaku untuk mendogengkan untuk penuntun tidurmu, sudah berapa banyak puisi dan dongeng murahan ku buatmu. yang jelas aku lupa berapa banyaknya. karena kau pun tau bahwa aku ini manusia pelupa. tapi buatku dongengan ini adalah dongengan terbaik buat ku yang aku ceritakan itu, entah dari mana cerita ini yang pasti aku lupa. 

#SG29​

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pisang Coklat Satu Rasa

Mawar Yang Hilang

Jalanku Semu